Showing posts with label Asrama Nias. Show all posts
Showing posts with label Asrama Nias. Show all posts

Monday, February 04, 2008

Prof. Wolfgang Koenig in Siantar


PROF DR WOLFGANG AUS DEUTSCHLAND BESUCHTE KINDER DER TSUNAMI OPFER AUS NIAS IN SIANTAR: Fuer das 4. Mal besuchte Prof. DR Wolfgang Koenig, Dozent der Fakultaet der Oekonomi der Universitaet Frankfurt, Deutschland, das Kindeheim der Tsunami-Opfer aus Nias, das von der Stiftung Bina Insani in Jalan Danau Kerinci verwaltet wird (24.1.nachmittag). Der Gast aus Deutschland wird von Dr Sarmedi Purba und seiner Frau Dr Gertrud sowie von Pastor ORK Detlev Nonne, der gerade in Nordsumatra taetig ist, begleitet.
Es sind 20 Kinder, Opfer der Tsunami aus Nias, die von der Stiftung Bina Insani verwaltet werden. Sie sind 16 Jungen und 4 Maedchen, die in die verschiedenen Mittel-und Oberschulen in Siantar gehen. Der Vorsitzende der Stiftung Bina Insani, Sarmedi Purba, sagte, dass Prof Wolfgang der staendige Donateur des Projekts ist und er bemueht sich Fonds in Deutschland zu sammeln, um den Kindern der Tsunami-Opfer zu helfen.

Thursday, January 24, 2008

Fotobericht ueber Besuch von Prof Wolfgang Koenig in Siantar

Am 24. Januar 2008 besuchte Prof. Wolfgang Koenig das Kinderheim der Tsunamiopfer aus der Insel Nias in Pematangsiantar. Hier ist ein Fotobericht:








Saturday, December 08, 2007

PESTA NATAL ANAK NIAS/WEIHNACHTSFEIER DER NIASKINDER

PESTA NATAL ANAK NIAS
Perayaan Natal di Asrama Anak Korban Tsunami Pulau Nias Pematangsiantar dilaksanakan dengan sederhana 8 Desember 2007. Kesederhanaan ini tidak mengurangi kegembiraan 20 anak Nias yang diasuh Yayasan Bina Insani dengan bantuan Lions Club Gelnhausen, Wurmberg dan Masyarakat Indonesia Jerman Eschborn yang masing-masing dipimpin oleh Prof. Wolfgang Koenig, Herr Wolfgang Amann dan Herr Rusdin Sumbajak dari Jerman.

Kegembiraan mereka tergambar di wajah-wajah mereka terutama karena mereka akan pulang kampung 18 Desember 2007 ini untuk libur Natal dan Tahun Baru di Pulau Nias.

Pada kesempatan perayaan Natal yang dipimpin oleh Ibu Asramna Nona Dewi Damanik dan Pendeta Berlian Saragih, rasa terima kasih mereka disampaikan kepada tamu-tamu yang hadir, khususnya kepada teman seiman di Jerman yang bersusahpayah mengumpulkan dana untuk membiayai sekolah mereka di berbagai sekolah SD, SMP dan SMA di Pematangsiantar. Hadir pada kesempatan tersebut Dr Sarmedi Pruba (Ketua Yayasan), Caroline Pinatauli (Direktur Eksekutif Bina Insani) dan semua pengasuh beserta tetangga Asrama Nias.

WEIHNACHTSFEIER DER NIASKINDER
Weihnachten werden auch im Kinderheim der Tsunami-Opfer der Insel Nias in Pematangsiantar gefeiert. Es fand am 8. Dezember 2007 im Kinderheim stat. Die Einfachheit der Feierlichkeit mindert nicht die Froehlichkeit der Kinder, die von der Stiftung Bina Insani mit Hilfe von Lions Club Gelnhausen, Wurmberg und Deutsch Indonesischer Gesellschaft unterstuetzt werden.

Die glueckliche Stimmung sieht man in Gesichtern der Kinder, zumal sie am 18. Dezember 2007 nach Hause fahren duerfen, um Weihnachtsferien mit ihren Eltern und Verwandten auf der Insel Nias zu verbringen.

Ihre dankbare Gefuehle druecken die Kinder auch in der Rede ihres Vertreters an alle Seiten, die ihnen geholfen haben, aus, vor allem an die deutschen Freunde, die so grosse Muehe und Strebsamkeit haben, Geld fuer ihre Schulausbildung in der Grund-, Mittel- und Oberschule in Siantar zu sammeln. Anwesend bei der Feierlichkeit sind auch Dr. Sarmedi Purba, Vorsitzender und Caroline Pinatauli, Executive Director der Stiftung Bina Insani
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Liturgie anak Nias/Bibelverse Vorlesen von Niaskindern

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Liturgi Bersama menggambarkan keragaman masyarakat yang difokuskan kepada arti Natal/Gemeinsames Vorlesen von Weihanchtsgruesse, um die Bedeutung der Geburt Christi zu betonen

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Foto bersama dengan pengasuh Asrama Anak/Gemeinsames Foto mit Gaesten

Tuesday, July 10, 2007

Lions Club Gelnhausen Akan Mengirimkan Bantuan Lanjutan Untuk Anak Korban Tsunami Pulau Nias Di Siantar

Asrama Anak Cacat Mental di negara bagian Thueringen dan Lions Club Gelnhausen di negara bagian Hessen Republik Federasi Jerman bertekad untuk membantu anak Nias korban tsunami di Siantar sampai pendidikan setingkat SLTA selesai. Demikian disampaikan oleh Rudolf Kimpel, anggota Lions Club Gelnhasuen, kepada Dr.med. Sarmedi Purba pada pertemuan di Benshasuen pada 6 Juli 2007.

Pertemuan tersebut dilakukan dalam rangka memperkenalkan Asrama Anak Korban Tsunami Pulau Nias di Jalan Danau Kerinci 5 Pematangsiantar keapda anak-anak penghuni Asrama Anak Cacad Desa Benshausen. ada 50 anak-anak tinggal pada asrama yang dibangun kembali sejak 17 tahun lalu oleh Lions Club Benshausen pasca penyatuan kembali Jerman pada 1989. Mereka adalah anak-anak yang diterlantarkan orang tuanya yang sebagian mengalami broken home, penyiksaan rumah tangga dan sebagian malah diperkosa oleh bapaknya sendiri. Trauma jiwa dan badan anak-anak ini diusahakan disembuhkan kembali di asrama yang mempunyai 38 orang karyawan dan karyawati asrama ini. Tiap 4-5 orang anak diasuh intensif oleh pendidik yang berpengalaman. Mereka harus teratur dalam pengobatan dokter, pergi ke sekolah, mengerjakan PR, latihan dan juga pada acara santai bersama teman-teman mereka.

Walaupun mereka telah mengalami hal-hal yang mengerikan dengan trauma yang di luar jangkauan akal sehat manusia, mereka dengan sopan dan bersahabat menunjukkan asrama dan kehidupan mereka kepada kedua tamu dari Indonesia, Sarmedi Purba dan Ibu Gertrud, yang memprakarsai Asrama Anak Korban Tsunami di Siantar bersama Rusdin Sumbayak, Ketua Masyarakat Indonesia Jerman Daerah Rhein Main di Eschborn. Malah mereka mampu menyisihkan uang saku mereka untuk anak korban tsunami di Pematangsiantar dan mengajak guru-guru, pendidik dan anak sekolah setempat untuk turut menyumbang. Mereka menyampaikan beberapa lagu dan khusus untuk anak Asrama Anak Korban Tsunami Pulau Nias Pematangsiantar, mereka menyumbangkan sanjak yang mereka ciptakan sendiri, yang antara lain berbunyi Seorang anak yang terus-terusan dikritik akan belajar mengutuk/ anak yang dipukuli akan belajar sendiri memukul/ anak yang dimanjakan akan belajar jadi pemalu/anak yang didorong akan belajar percaya diri/anak yang mendapat tolerasnsi akan belajar sabar/anak yang dipuji akan menhargai penilaian/anak yang di perlakuan adil akan belajar keadilan/anak yang dicintai dan dipeluk akan belajar merasakan cinta…

Pada pertemuan tersebut Ibu Gertrud Purba,yang juga mengawasi pelaksanaan pelayanan untuk 24 anak-anak di Asrama Anak asuhan Yayasan Bina Insani itu, memaparkan kehidupan anak-anak Nias korban tsunami di Siantar, misalnya bagaimana bahasanya, apa kegiatan mereka mulai pagi sampai sore dan banyak pertanyaan yang mereka ajukan kepada ibu Gertrud.

Anak-anak asrama di Benshausen bersama pimpinannya sepakat dengan Dr Sarmedi untuk melakukan tukar menukar pengalaman melalui internet dengan bahasa Inggeris. Pengasuh ananak-anak cacat mental ini ingin agar mereka menyelesaikan tugas wajib mereka dalam pelajaran bahasa Inggeris dengan menulis surat ke Siantar. Jadi sekali mendayung terlampaui dua pulau.

Keesokan harinya diadakan lagi pertemuan dengan Lions Club Gelnhausen yang dipimpin oleh Presidennya dan dimoderatori oleh Prof. Dr. Wolfgang Koening, mantan Presiden LC Gelnhausen, yang sudah 2 kali mengunjungi Asrama Anak di Siantar. Hadir juga antara lain Herr Fritz Dehio, Pengawas Perbendaharaan LC Gelnhausen yang sudah mengenai manajemen Asrama Anak di Siantar itu melalui hubungan internet. Beberapa anggota pengurus Lions Club Gelnhausen meyakinkan Dr Purba bahwa mereka akan mencari bantuan dari masyarakat Jerman untuk anak Nias yang bersekolah di Pematangisantar. Pada club meeting tersebut Ibu Gertrud juga menceritakan perkembangan pada anak sekolah yang tinggal di asrama di Pematangsiantar itu.

Seperti diketahui pada pemberitaan pers dan website http://www.binainsani.org/ sejak bulan Mei 2005 25 anak Nias korban tsunami Desember 2004 dan gempa bumi Maret 2005 ditampung Yayasan Bina Insani yang dipimpin Agus Marpaung di kota itu. Satu orang tidak meneruskan sekolahnya di Siantar dan pulang ke tempat orang tuanya di Nias, Tiga orang telah selesai menamatkan pendidikan SMA di SMA Kampus Universitas HKBP Nommensen Siantar. Dari 21 anak yang masih tinggal di asrama yang sejak 7 Juni 2007 pindah dari Jalan Baja Membara 6 ke Jalan Danau Kerinci 5 di kota itu, 11 anak akan meneruskan pendidikan ke SLTA setelah menamatkan pelajaran di SMP Cinta Rakyat P. Siantar.

Sunday, January 21, 2007

ASRAMA ANAK NIAS KORBAN TSUNAMI SIANTAR DAPAT BANTUAN DARI JERMAN 15.000 EURO (NIASKINDERHEIM IN SIANTAR BEKAM EINE UNTERSTUETZUNG VON 15.000 EURO)

Photobucket - Video and Image Hosting
Anak Nias Ber-tahun-baru di rumah Keluarga Dr Sarmedi Purba (Neujahresbesuch der niaskinder bei familie purba am 17.1.2007)


Dua puluh empat anak sekolah asal Nias korban gelombang tsuname pada 26 Desemebr 2004 yang ditampung oleh Yayasan BINA INSANI di Pematangsiantar menerima bantuan tambahan dari Jerman pada 11 Januari yang lalu. Demikian Dr. Sarmedi Purba SpOG, Ketua Yayasan BINA INSANI mengumumkan hari ini.

(24 schulkinder aus nias, die oepfer der tsunami beben vom 26. dezember 2004 waren und von der Stiftung BINA INSANI in pematangsiantar aufgenommen wurden, erhielt eine zusaetzliche hilfe aus deutschland am 11. januar 2007, BERICHTETETE Dr.med. Sarmedi Purba, Vorsitzender der Stiftung BINA INSANI)

Bantuan tersebut adalah hasil pengumpulan dana Desa Wurmberg, di negara bagian Badaen Wuerttemberg, Jerman untuk membantu anak-anak Nias yang sekolahnya terlantar di Pulau Nias sesudah gempa tsunami 2004 dan gempa 2005. Pengumpulan dana adalah atas inisiatif dari Herr Wolfgang Amann, seorang pengusaha, yang meninjau Nias pada awal tahun 2005 sebelum gempa kedua pada bulan Maret 2005. Herr Amann langsung bicara dengan orang tua anak-anak Nias itu dan melihat malapetaka yang terjadi pasca gempa tsunami yang memporakporandakan kehidupan di pedesaan Nias Selatan waktu itu, khususnya di desa Mandrehe. Dengan ditemani Ir Nitema Gulo, MSi Wolfgang Aman meninjau beberapa desa di Nias awal tahun 2005.

(das geld ist als hilfe durch spendenaktionen der gemeinde wurmberg, land baden wuerttemberg, deutschland, fuer die niaskinder, deren schulung nicht mehr gewaehrleistet durch tsunami im jahre 2005 und nachfolgende erdbeben im maerz 2005 waren. Herr Amann, ein unternehmer, hat mit den Eltern der Kinder in Nias gesprochen und erlebte die Katastrophe durch die tsunami beben, die das leben in den doerfern suednias zerstoert haben. Mit Ir Nitema Gulo, ein Nias, der in der Provinzhauptstadt medan als dozent arbeitete, hat er einige doerfer, unter anderem dorf mandrehe anfang 2005 besichtigt)

Sesudah pulang ke desanya di Wurmberg,Wolfgang Amann mengajak masyarakat dan kepala desa, pemuka-pemuka gereja untuk mengadakan kegiatan pengumpulan dana untuk anak Nias korban tsunami yang telah dijumpainya. Kegiatan bazar, konser musik, pengumpulan dari perkumpulan pemuda gereja diadakan untuk mengumpulkan dana tersebut dan sekarang uang tersebut dikirimkan ke Siantar untuk dipergunakan untuk membantu biaya anak-anak Nias yang sekolah di Siantar. Pada kegiatan konser musik bulan Desember 2006 Dr. Sarmedi Purba dan Ny Gertrud diundang ke Wurrmberg, di mana Ibu Gertrud Purba memberikan informasi tentang penampungan anak-anak Nias oleh Yayasan BINA INSANI di Sianar.

(Zuruck in Wurmberg organisierte Wolfgang Amann mit dem Burgermeister der Gemeinde Wurmberg, mit der christlichen Gemeinde und Jugend spendenaktionen fuer niaskinder, opfer der tsunami beben, die er mit eigenen augen gesehen hat. Bazar, Posaunen-Konzerte, Spendensammlungen von der Jugend wurden veranstaltet. Und jetzt ist das geld da und und nach siantar geschickt. Bei einer konzertveranstaltung im dezember 2006 wurden Dr. med. Sarmedi Purba und sine Frau Gertrud eingeladen und dabei hat Frau Purba ueber das Kinderheim von der Stiftung BINA INSANI, die die Opfer der tsunami in nias aufnahm, berichtet).

Menurut Dr Sarmedi, bantuan pertama diterima dari Lions Club (LC) Kota Gelnhausen, Negara Bagian Hessen, Jerman dibawah pimpinan Prof. Dr Wolfgang Koenig, Dosen Fakultas Ekonomi Univrsitas Frankfurt pada tahun 2005. Herr Koenig sudah 3 kali mengunjungi anak-anak Nias itu di Siantar, terakhir pada 20 Desember yang lalu. Dengan bantuan dari LC Gelnhausen ini biaya 24 anak sekolah asal Nias itu sudah dapat ditutupi selama dua tahun. Bantuan lainnya diterima juga dari Masyarakat Indonesia Jerman Kota Eschborn (pimpinan Rusdin Sumbajak) dan kota Kiel (pimpinan Dr Kreikemeier yang pernah bekerja di Lampung pada tahun 50-an). Dan banyak lagi sumbangan-sumbangan pribadi dari Jerman dan Indonesia, khususnya dari masyarakat Nias di Medan dan Siantar.

(nach Dr Sarmedi kam die erste hilfe im jahre 2005 von Lions Club Gelnhausen in Hessen (President Prof. Dr. Wolfgang Koening, ein dozent der wirtschaftswissenschaftlichen fakultaet der uni frankfurt). Herr Koenig hat das Kinderheim schon drei mal besucht, zuletzt am 20. dezember 2006. Mit der hilfe aus Gelnhausen sind die Lebenskosten der 24 Niaskinder fuer 2 Jahe gewaehrleistet. Ausserdem gibt es noch Spenden von der Deutsch Indonesischen Geselschaft (DIG) Eschborn (Vorsitzender Rusdin Sumbajak) und DIG Schleswig Holsten in Kiel (Vorstand Dr.med. Kreikemeier, der in 50-ziger jahren in lampung auf der insel sumatra arbeitete). Privatspenden aus deutschland und Indonesien hat man auch fuer die niaskinder bekommen, besonders von den niassern in siantar und medan).

Semua hubungan dengan penyumbang dari Jerman ini dihubungkan oleh teman-teman sekolah di Jerman, seperti Rusdin Sumbajak dari Eschborn (dekat Frankfurt) dan dr Tammat Sitepu dari Kiel. Orang-orang Jerman sangat antusias dari langsung datang meninjau ke Indonesia. Yang utama bagi mereka, bantuan sampai langsung kepada penerima dan dapat dilaporkan langsung kepada penyumbang, kata Sarmedi.

“Alle kontakte mit deutschland wurden durch meine Freunde waehrend der Studienzeit in Deutschland zustandegekommen, wie rusdin sumbajak aus eschborn und tammat sitepu aus kiel. Die deutschen waren sehr interessiert und kamen sofort zur besichtigung nach indonesien. Wichtig ist nur, dass die hilfe direkt zu den empfaengern gegeben werden und die ergebnisse der aktionen auch direkt den spendern gegeben, sagte Sarmedi)

Rusdin Sumbajak juga mengumpulkan obat-obatan yang disumbangkan untuk korban gempa Nias dan Aceh waktu itu. Sumbangan obat-obatan dari Masyarakat Indonesia Jerman itu kami teruskan kepada PMI Pusat, kata Sarmedi, yang juga Ketua PMI Cabang Siantar Simalungun itu.

(rusdin sumbajak hat auch medikamente fuer die tsunamiopfer in nias und aceh gesammelt. Diese hilfe von DIG Eschborn haben wir an die haupftverwaltung des indonesischen roten kreuzes in jakarta weitergegeben, sagte dr purba, der auch als vorsitzender des roten kreuzes indonesien in siantar simalungun taetig ist.

Anak sekolah dari Nias Selatan itu tiap tahun dikirim pulang ke Nias pada libur Natal/Tahun Baru supaya mereka tidak kehilangan kontak pribadi dengan keluarga mereka. Mereka terdiri dari 4 perempuan dan 20 laki-laki yang mengunjungi sekolah di SD Katolik 3 orang, SMP Katolik 17 orang dan SMU Kampus Nommensen 4 orang.

(die schulkinder aus suednias werden jedes jahr in weihnachtsferien nach hause geschickt, damit sie mit ihren angehoerigen in verbindung bleiben. Sie bestehen aus 4 maedchen und 20 jungen, 3 kinder in der grundschule, 17 kinder in der mittleren schule dan 4 kinder in der oberschule).

Wednesday, December 13, 2006

Fotobericht der Niaskinder *Berita Foto Asrama Anak Nias

Bericht ueber die Kinder von Nias
Stand 13 Dezember 2006
Berichtserstatter: Frau Gertrud Poerba

24 Kinder aus Nias, deren Eltern und Verwandten ihre Habe und zum Teil ihr Leben verloren haben, durch die Tsunami Katastrophe an Weihanachten 2004 und das nachfolgende schwere Erdbeben im Maerz 2005, gehen seit Mai 2005 hier in Siantar zur Schule.

Spender dieses Projektets ist zur Zeit der Lionsfoerderverein Gelnhausen: unsere Kinder sind 11-18 Jahre alt; zum Abschluss des Schuljahres im Juni 2006 haben alle Kinder das Klassenziel erreicht. Einer unserer Mitschueler hatte das beste Zeugnis seiner Klasse bekommen koennen.

Die Schulferien verbrachten die Kinder zusammen mit der Heimleitung auf der Insel Samosir am Tobasee, etwa 50 km suedwestlich von Siantar.

Im Juli begann das Schuljahr und wie wir mit grosser Freude bemerkt haben, kommen unsere Kinder in der Schule gut zurecht. 11 unsere Mittelschueler und 3 Oberschueler bereiten sich nachmittags auf die nationale Abschlusspruefung der Mittel- bzw Oberschule vor, die in April 2007 stattfinden wird.

Auch diesmal werden unsere Kinder Weihnachten und Neujahr bei ihren Verwandten auf Nias verbringen, damit die Kinder ihre Kontakte mit den noch ueberlebenden Verwandten nicht verlieren.

Am 20. Dezember veranstalten die Kinder und ihre Heimleitung eine Weihnachtsfeier, diesmal zusammen mit den Weisenkindern der Christilichen Batakkirche, bevor sie dann am 23. Dezember nach Nias abreisen.

Am 6 Januar kommen die Kinder wieder zurueck nach Siantar, um weiter zur Schule zu gehen.

------------------------------

TAGESABLAUF DER KINDER AUS NIAS

Der Tagesablauf unserer Kinder waehrend der Woche mag fuer deutsche Verhaeltnisse ziemlich spartanisch sein.

Diana Gulo, eines unserer Maedchen, die die 2. Klasse Mittelschule besucht, berichtet wie folgt:

Wir stehen jeden Morgen um 5 Uhr auf, waschen unsere Kleider vom Tag zuvor, machen unsere Betten und saubern das Haus. Jungen und Maedchen arbeiten zusammen, jeder hat seine Pflichten, die erledigt werden muessen.

Nachdem wir geduscht und angezogen sind, findet eine kurze Morgenandacht statt und wir alle fruehstuecken zusammen. Um 7.15 gehen wir alle zur Schule.

Um 14.00 Uhr ist der Unterricht zu Ende und wir essen um 14.30 gemeinsam zu Mittag. Nach einer Ruhepause haben etwa 14 von uns am Nachmittag Zusatzunterricht in der Schule, um sich auf die nationale Abschlusspruefung der Mittelschule bzw der Oberschule, die im April 2007 statfinden wird, vorzubereiten.

Um 7 Uhr abends ist ein gemeinsames Abendessen. Anschliessend findet eine kurze Abendandacht stat. Danach machen wir Schularbeiten. Um 10 Uhr gehen wir alle schlafen.

Natola Gulo, einer unserer Jungen, der die dritte Klasse Oberschule besucht, fuegt in seinem Bericht noch folgendes hinzu:

Nachdem in den letzten Monaten oft der elektrische Strom ausfiel, haben wir einen Generator bekommen, den ich zusammen mit meinem Schulfreund warte. Wir kuemmern uns um das Benzin fuer den Generator und schalten ihn abends an, damit wir alle Schularbeiten machen koennen und es nicht so dunkel ist, wenn die juengeren Kinder schlafen gehen, weil sie sich sonst fuerchten.

Am Sonntag morgen gehen wir um 8 Uhr gemeinsam in die Kirche, danach haben wir alle frei.

Viele von uns haben Schulfreunde, die in Siantar wohnen; sie kommen uns besuchen oder wir sind bei ihnen zu Hause eingeladen. Oft machen wir zusammen ein Picknick in der Umgebung von Siantar, manchmal spielen wir zusammen Fussball oder wenn schlechtes Wetter ist, sehen wir uns einen Film im Fernsehen an.

Seit wir in Siantar in die Schule gehen, haben wir viele gute Erfahrungen gemacht mit unseren Mitschuelern und Lehrern. Wir wohnen gerne in unserem Haus und haben im Garten schon etwas Mais angepflanzt.

Jeden von uns bekommt im Monat Rp 30.000 Taschengeld. Vielen, vielen Dank unseren Spendern.

Photobucket - Video and Image Hosting
Die Niaskinder freuen sich ueber die Brochure aus Deutschland

Photobucket - Video and Image Hosting
Man interessiert sich, was man in Deutschland ueber die Niaskinder schreiben

Photobucket - Video and Image Hosting
So sieht ein Zimmer der Maedchen aus

Photobucket - Video and Image Hosting
Und das Zimmer der Jungs sind turbulenter

Photobucket - Video and Image Hosting
Gemeinsames Essen waehrend des Besuches von Prof. Wolfgang Koenig am 20.11.2006

Photobucket - Video and Image Hosting
Lachende Kinder mit Dr Sarmedi Purba und der Heimleiterin, Diakonissin Hella Siringoringo

Saturday, January 21, 2006

Bantuan Untuk Anak-anak Nias Korban Tsunami

Untuk tahun kedua anak-anak korban tsunami dari Nias yang ditampung di Asrama Anak Korban Tsunami Nias di Jalan Baja Membara No. 2 masih terus mengalir dari Jerman. Demkian diterangkan oleh Ketua Yayasan Bina Insani, Dr. Sarmedi Purba, SpOG, kepada wartawan 13 Januari 2006 yl.

Sarmedi yang baru-baru ini baru pulang cuti di Jerman mengatakan bahwa pada 3 pertemuan dengan masyarkat Jerman, Bina Insani yang menampung anak-anak Nias tersebut sejak 11 Mei 2005 yl, berhasil membina hubungan baik dengan kelompok-kelompok penyumbang di sana sehingga biaya untuk tahun kedua tahun 2006/2007 sudah tersedia. Pada 3 pertemuan itu telah direncanakan pemberian sumbangan untuk tahun kedua sebesar Eur 12.000 dari Desa Wurmberg. Dari jumlah tersebut telah terkumpul Eur 8.200 dan akan dikirimkan ke Indonesia kalau teknis administrasinya telah dapat diatasi dengan baik. Kelompok Kerja “Wurmberg Hilft Niaskindern” yang dipimpin oleh Herr Worfgang Amann yang sudah pernah berkunjung ke Pematangsiantar dan Pulau Nias ini masih akan mengadakan bazar, pertunjukan konser untuk kegiatan amal menolong korban tsunami Nias, sehingga dana yang ditargetkan dapat dicapai. Pada pertunjukan konser dari St. Petersburg (Rusia) pada 18 Desember yl., keluarga Sarmedi Purba telah menyampaikan permintaan untuk bantuan tersebut di Wurmberg.

Pertemuan kedua telah dilakukan dengan Rusdin Sumbayak, Ketua Masyarakat Indonesia Jerman (Deutsch Indonesische Geselschaft-DIG) Eschborn dan Gereja Evangelis Eschborn pimpinan Pendeta Reinhold Ihrig, dan kedua badan ini telah menyumbangkan dana sebesar Eur 5.139,17 yang diserahkan di Kantor gereja Eschborn pada 3 Januari 2006 yl. oleh kedua organisasi tersebut kepada Dr. Sarmedi dan Ibu Gertrud Purba.

Pada pertemuan ketiga di Gelnhausen dekat kota Frankfurt/M diadakan pertemuan dengan anggota Lions Club Gelnhauuen di mana Dr. Sarmedi dan ibu Gertrud memberikan penjelasan tentang keadaan anak-anak korban tsunami dari Nias di Asrama Anak di Pematangsiantar. Pada kesempatan itu hadir Pendeta Schulz sebagai Ketua Lions Club Bad Vilbel, yang baru-baru ini menyumbangakan Eur 3.000,00 kepada anak Nias di Pematangsiantar. Seperti diketahui Lions Club Gelnhausen adalah sponsor utama bantuan untuk anak-anak Nias ini untuk 1 tahun pertama sebesar Eur 35.000 tahun yang lalu. Kelompok kerja untuk bantuan Nias ini dipimpin oleh Prof. Dr. Wolfgang Koenig, Dekan Fak. Ilmu Ekonomi Universitas Frankfurt.

Menurut Dr. Sarmedi Bina Insani merasa terpanggil menampung anak Nias di Pematangsiantar, yaitu korban Tsunami pada Natal 2004. Karena itu dengan hubungan baik dengan kawan-kawan yang ada di Jerman diupayakan untuk menyalurkan bantuan kepada yang membutuhkan di daerah ini. Bantuan ini memang termasuk proyek kecil kalau dibandingkan dengan bantuan yang diupayakan untuk korban tsunami di Aceh dan Nias. Namun ada kelompok kecil di Jerman yang ingin melihat langsung ke mana dan kepada siapa mereka telah menyumbangkan uangnya dan apakah betul-betul diterima korban. Karena itu mereka telah beberapa kali mengadakan kunjungan ke asrama anak-anak itu dan mengadakan dialog dengan anak-anak dari Nias tsb.

Pada kesempatan mampir dalam perjalanan wisata rombongan Dr. Kreikemeier dari Kiel misalnya, telah diberikan juga sumbangan Eur 500 untuk menambah sumbangan mereka sebagai Masyarakat Indonesia Jerman di Schleswig-Hostein yang telah dikirim sebelumnya sebesar Eur 1200.

Dari masyarakt Nias di Sumut dan khususnya di Pematangsiantar masuk juga bantuan untuk korban tsunami yang ditampung di kota Siantar, misalnya dari Pdt. Drs. T. Laia, STh tahun yl menyumbangakan uang tunai Rp 10 juta dan banyak sumbangan dari keluarga di Siantar, kata Sarmedi yang telah memimpin Yayasan Bina Insani sejak 1982. Ada yang menyumbangakan uang, beras, Indomie, pakaian dan malah alkitab. Yayasan yang berkantor di Jalan Sangnaualuh 16 Pematangsiantar ini, menurut Sarmedi biasanya bergerak dalam pengembangan pedesaan, namun tugas yang satu ini agak istimewa karena datangnya tiba-tiba dan tanpa direncanakan jauh-jauh hari. Namanya saja bencana alam, kata Sarmedi yang juga dikenal sebagai ketua PMI Siantar Simalungun, dan yang pernah tinggal di Jerman selama 11 tahun dan pulang ke Indonesia 30 tahun yl.

Dalam kesempatan memberikan informasi kepada wartawan di RS Vita Insani, di mana dokter ini bekerja, Sarmedi menghimbau kepada masyarakat untuk turut menyumbang. Kita jangan mengharapkan bantuan dari luar negeri saja tetapi kita juga harus berpartisipasi. Mengunjungi anak-anak yang jauh dari orang tuanya saja sudah banyak menolong dan menghibur korban bencana ini, seperti yang dilakukan oleh ibu-ibu dari HKBP pada perayaan natal asrama Nias pada 13 Desember yl. Malah mereka memberikan hadiah natal kepada penghuni asrama Nias tsb.

Kita berupaya memberikan pelayanan sebaik mungkin agar anak-anak itu dapat melanjutkan sekolahnya di SD, SMP dan SMU di kota ini, kata Sarmedi mengakhiri keterangannya.

Image hosting by Photobucket
Walikota Wurmberg dengan peserta malam dana Wurmberg Hilft Niaskindrn
Image hosting by Photobucket
Penyerahan uang dari DIG dan Evangelische Kirche Eschborn kepada Bina Insani
Image hosting by Photobucket
Prof. Wolfgang Koenig berfoto dengan Rusdin Sumbajak dan Ibu Ira dan Sarmedi Purba dan Ibu Gertrud

Wednesday, May 11, 2005

KINDERHEIM DER TSUNAMI OPFER AUS NIAS

11. May 2005

Heute um 10.00 Uhr sind 13 Kinder aus der Insel Nias bei uns im Youth Center von Stiftung Bina Insani in Pematangsiantar angekommen. Sie sind von Herrn Ir. Nitema Gulo und Herrn Bazaro Waruwu begleitet worden. Sie sind alle gesund aber muede. Sie sind nach 12-stuendigen Schiff-Fahrt von Gunung Sitoli um 4 Uhr in Sibolga, Westkueste von Sumatra angekommen. Nach einer 6-stuendigen Busfahrt sind sie in Siantar angekommen.

Anbei ist die Liste der Kinder, sowohl eine Gruppenfoto als auch die einzelnen Bilder der Kinder.

Nach Angaben von Herrn Gulo und Herrn Waruwu sind von den 25 dmaligen Kinder 7 nach Medan und Pekanbaru umgezogen, 5 sind in anderen Schulen gegangen (weil sie zu lange gewartet haben und wegen der erneuten Erdbeben vom 28. Maerz 2005) und eins ist bei den Erdbeben vom 28. Maerz umgekommen.

Herr Gulo und wir sind der Meinung, dass wir die 13 Kinder erst unterbringen und nach einiger Zeit weitere hilfsbeduerftige Kinder suchen und nach Siantar bringen. Es muss natuerlich vor dem Schulanfang (Juli) dieses Jahres sein.

Im Namen der Kinder wollen wir uns bei allen Freunden in Deutschland ganz herzlich bedanken.

Mit freundlichen Gruessen

Dr.med.Sarmedi Purba

Ps. Weitere Berichte folgen in paar Tagen.

5. Juni 2005

Am 28. Juni 2005 ist ein Kind der damals 25 Kinder nachgekommen. Er heisst Yatatema Gulo, 2. Klasse SMP aus Lasarabagawu. Er konnte gluecklicherweise am 30.5.2005 in der Schule aufgenommen werden.

Die Liste der 13 Kinder (jetzt 14 Kinder):

No Name der Kinder Ges Geb.Dt Shule Aus Dorf Bemerkung
1 Marlin Waruwu m 27.3.88 SMU. Lasarabagawu
2 Fa’ahakhododo Gulo m 28.11.88 SMU Lasarabagawu
3 Fa’atulo Gulo m 10.4.88 SMK Fukagambo Waisen
4 Sokhiwolo’o Gulo m 13.7.90 SMP Lasarabagawu
5 Oskal Gulo m 16.4.90 SMP Fukagambo
6 Nofamati Zebua m 22.2.91 SMP Ononamolo-III
7 Masali Gulo m 13.12.91 SMP Lasarabagawu
8 Afolo Gulo m 19.4.91 SMP Lasarabagawu
9 Yafitarius Gulo m 28.12.92 SMP Lasarabagawu
10 Fernadowita Putra Gulo m 18.10.94 SD Lasarabagawu
11 Herman Gulo m 6.4.94 SD Lasarabagawu
12 Aminaria Waruwu w 16.3.93 SD Lasarabagawu
13 Natola Gulo m 17.7.88 SMU Hilisoromi Vater verstorb
14 Yatatema Gulo m SMP Lasarabagawu (nachgekommen am 28.5.2005)
Bemerkungen:
SMU = Oberschule; SMK = Fachoberschule; SMP = Erste Mittlere Schule; SD = Grundschule
Grundschule 6 Jahre, Mittl. Schule 3 Jahre, Oberschule 3 Jahre

Die Fotos der 13 Kinder (Nr.1-13)

Image hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.com

Wednesday, January 19, 2005

RENCANA SHELTER ANAK NIAS KORBAN TSUNAMI

PENGADAAN SHELTER BAGI ANAK-ANAK
KORBAN GEMPA TSUNAMI ACEH DAN NIAS
Di Kota Pematangsiantar, Provinsi Sumatera Utara, Indonea

Organisation Profile

A. Organisation : YAYASAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA “ BINA INSANI”
Human Resources Development Foundation

Founded : 2 May 1982, Notary SM. SINAGA, SH , Pematangsiantar
Address : Jln. Pantai Timur NO. 91, Pematangsiantar, Sumatera Utara, Indonesia
Phone : 0622 – 50527
FaX : 0622 – 51290
Email : bina_insani04@yahoo.com dan joened@indo.net.id
Contact Person:- Dr. Sarmedi Purba ( Chairman of Foundation )
- Agus Marpaung (Executive Director)

VISI : MEMBANGUN UNTUK DAN BERSAMA RAKYAT
MISI - Bersama melaksanakan program-program pengembangan keswadayaan
Masyarakat di Pedesaan
- Bersama meningkatkan kemampuan individu, kelompok dan masyarakat di bidang social, ekonomi dan hak azasi manusia
Program Kerja:
1. Pengadaan Sarana phisik ( Air Bersih, Pemukiman)
2. Pendidikan dan Pelatihan
- Taman Kanak-kanak
- Perempuan, gender dan Kesehatan Reproduksi, Akupresur
- Pertanian dan pengembangan ekonomi
- Penguatan Kesadaran Hukum & HAM (Civil Society)
3. Publikasi Suara Insani

B. Name of Organisation : DIG ( Deutsch –Indonesische Gesellschaft Rhein-Main eV)
Founded : 1 Dezember 1997, Notar Dr. Klaus Hackenberg, Eschborn/
Germany
Address : Haupt Str 110, 65760 Eschborn, Germany
Phone : 061-96-484679
Fax : 061-96-954917
Email : rusdin.sumbajak@t-online.de
Contact Person : Dr. Hans von Zedlitz ( Vice Chairman of DIG) /Rusdin Sumbajak –Founder/Chairman)

Program kerja :
1-menghubungi dan mensosialisasikan program kerja kepada Donatur/Sponsor dan juga memberikan laporan terhadap perwakilan Pemerintah Jerman ( Konsulat dan Kemlu )

2.DIG dan Bina Insani bersama-sama memberikan laporan pertangung jawaban program kerja yang sedang berjalan dan akan dilakukan secara berkala.
3. Atas permintaan Donatur/sponsor yang telah memberikan Dana berhak melakukan pemeriksaan dan penilaian tersendiri atas project yang sedang berjalan.


1. BACKGROUND

Gempa Tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu telah menewaskan 105.000 orang di Aceh dan Sumatera Utara yang terdiri dari anak-anak, remaja, dewasa. Juga merusak pemukiman, perkantoran, dan fasilitas lainnya. Banyak orang yang masih hidup tapi saat ini kondisinya sangat kritis baik yang dirawat di Rumah Sakit maupun yang belum dibawa ke rumah sakit. Banyak yang belum mendapatkan bantuan makanan karena sulitnya pendistribusian bahan-bahan makanan, karena sarana transportasi dan juga komunikasi terputus.

Beberapa daerah yang banyak korban akibat Gempa Tsunami selain di wilayah Aceh terdapat di Kecamatan Mandrehe dan Siromu, Pulau Nias di Sumatera Utara.

Gempa ini telah mengakibatknya banyak anak yang saat ini masih hidup tetapi orang tuanya telah meninggal dunia. Hal ini telah membuat pukulan yang berat terhadap kondisi anak mental maupun terhadap fisik. Mereka tidak lagi memiliki tempat tinggal dan kesulitan untuk mendapatkan makanan, kesehatan, dan pendidikan.

Kondisi Anak-anak Korban Tsunami Sumatera Utara sangat mengharapkan upaya-upaya kongkrit yang dapat membantu anak tersebut. Dimana mereka saat ini sebahagian besar tinggal di Pulau Nias, namun sebahagian dari anak tersebut dibawa oleh familinya dan tinggal diberba gai daerah seperti Medan, Lubuk Pakam, Tebing Tinggi, Medan, dan Sibolga.

Salah satu upaya yang harus dilakukan dalam menolong anak yang orang tuanya meninggal akibat Gempa Tsunami Sumatera Utara adalah menyediakan Shelter di Kota Pematangsiantar, provinsi Sumatera Utara. Shelter yang dapat memberikan tempat tinggal bagi anak-anak dimana anak tersebut dapat tinggal, mendapat makanan, kesehatan, pendidikan, dan perawatan kesehatan.

Untuk tujuan di atas telah dipersiapkan sebuah rumah yang telah disewa sebagai Youth Center di Jalan Sambo 7A Pematangsiantar.


2. TARGET GROUP
Adapun Target Group dari Program ini adalah:
Ø Anak-anak Korban Tsunami Sumatera Utara (Nias)
Ø Anak-anak yang orang tuanya tidak mampu menyekolahkan anaknya lagi akbibat kerusakan gempa tsunami.
Ø Anak-anak yang berada di Nias
Ø Anak-anak yang membutuhkan perawatan medis dan psikhologis

3. OBJECTIVE
Ø Pendirian Shelter:
Memberikan pelayanan tempat tinggal, makanan, pendidikan bagi 25 anak korban Tsunami Sumatera Utara (Nias)

4. AREA PROGRAM

Shelter ini akan disediakan di satu rumah sewa di Kota Pematangsiantar, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.


5. INTERMEDIATE RESULT AND ACTIVITIES
No
Kegiatan
Indikator Keberhasilan
1
-Sosialisasi Kepada Stake holder (Pemerintah Kota Pematangsiantar dan Bupati Simalungun, Masyarakat, Elemen Masyarakat)
Ø Pihak Pemerintah Kota Pematangsiantar (Walikota - DPRD) dan Kabupaten Simalungun (Bupati-DPRD) mendukung adanya Shelter bagi Anak Korban Tsaunami Aceh dan Sumatera Utara (Nias)
2
-Menyewa Rumah sebagai Shelter
Ø Adanya 1 kompleks rumah yang disediakan sebagai shelter yang menampung 100 orang anak Korban Tsunami Sumatera Utara (NIAS)

6. BUDGET
Anggaran yang dibutuhkan dalam program ini :
Biaya sosialisasi kepada stakeholder
Biaya sewa 1 rumah untuk shelter
Biaya air, Listrik, telephone kompleks perumahan
Biaya Pembelian peralatan di Shelter: tempat tidur, alat memasak yang tidak ada lagi (tambahan)
Biaya transportasi penjemputan anak untuk datang ke shelter
Biaya hidup 100 orang Anak
Honor 2 Tenaga Pengasuh dan 1 orang kepala asrama, 1 tukang masak dan 3 orang pembantu

7. ASSESSMENT OF RISK
Proyek ini akan gagal diimplementasikan apabila terjadi :
Ø Kebijakan Pemerintah Pusat melarang Anak Korban Tsunami Nias diasuh di luar Nias.

8. SUSTAINABLE OF PROJECT AND IMPACT
Dampak dan Kesinambungan Program ini adalah:
Ø 25 orang anak korban Tsunami Sumatera Utara (Nias) akan mendapatkan perlindungan dan pendidikan
Ø 25 anak akan mendapatkan hidup yang layak walaupun orang tua mereka telah meninggal dunia
Ø 25 orang anak akan mendapatkan pendidikan formal dan non formal di Kota Pematangsiantar dengan mengupayakan program beasiswa
Ø Shelter ini akan tetap menjadi tempat perlindungan anak-anak korban Tsunami dan Pusat Rehabilitasi dan perawatan kesehatan bagi anak korban Tsunami, yang berlangsung secara berkesinambungan.